Kategori

Showing posts with label Adat Budaya & Potensi Wonogiri. Show all posts
Showing posts with label Adat Budaya & Potensi Wonogiri. Show all posts

28 December 2015

Wonogiri, Lahan Empuk Otobis

Hemmm...

Saya buka artikel kali ini dengan sepatah kata itu sebagai gambaran rasa tentang seandainya orang luar daerah berkehendak melabuh ke Wonogiri dengan moda transportasi andalan warga aslinya yaitu bis malam, kira kira PO apa ya yg bakal mereka pilih...
Pasalnya sepengetahuan saya yg terbatas, Wonogiri merupakan daerah yg paling banyak dijelajah nama bis malam jika disandingkan dengan daerah sekitar yg tentunya juga sebagai muara laju bis malam dari Jakarta.
Coba saja tengok berapa banyak nama operator bis yg menawarkan jasanya membawa diri kita ke Kudus dan sekitarnya, Nusantara, Haryanto, New Shantika, Muji Jaya, MJCM, Bejeu, Madu Kismo, Selamet, Sido Rukun, Pahala Kencana, Budi Jaya. Nyaris hanya diisi oleh pemain lokal, adapun operator luar daerah yg melayani penumpang tujuan Demak - Kudus - Pati - Rembang dsk mungkin sejatinya bertrayek hingga ke Jawa Timur, hanya saja demi mengisi rongga kursi yg masih tersisa, membawa penumpang tujuan lereng gunung Muria dihalalkan.
Lain lagi dengan Gemolong, yg walaupun dihuni oleh banyak nama operator, namun rutenya terbagi menjadi dua, via Purwodadi dan via Solo. Inilah uniknya Gemolong, pemain Solo seperti Sindoro, Laju Prima, Gunung Harta, Gunung Mulia, dan pemain Muriaan macam Haryanto, Bejeu serta pemain asli Gemolong yaitu Garuda Mas dan Zentrum bisa bermuara dalam satu terminal (selain ketika berada di Jabodetabek).
Idem, Jogja malah memiliki lebih dari dua pilihan rute, PO pribumi seperti Ramayana, Maju Lancar, dan Santoso mengambil rute via Ambarawa sebagai trayeknya. Sedangkan OBL memilih rute melewati daerah homebasenya Temanggung. Sumber Alam, Sinar Jaya dan Rosalia Indah menjadikan Brebes-Bumiayu-Kebumen-Purworejo sebagai lintasan gerilyannya. Sedangkan rute Jakarta-Jogja via Selatan diisi oleh Murni Jaya dan sebagian seri dari Maju Lancar.
Tak membuahkan keheranan jikalau Kota Reog juga dirambah banyak nama PO, mengingat minimnya perusahaan lokal yg melayani trayek ke Ibukota, tercatat hanya Jaya lah PO asli Ponorogo yg berjuang memutarkan rodanya ke Jakarta dsk. Meski demikian, jumlah nama PO yg bertrayek Ponorogo tetap saja tak melebihi angka PO yg tercatat di Wonogiri.
Tunggal Dara, Tunggal Dara Putera, Gajah Mungkur, GMS, Tunggal Daya, Jaya Mulya, Timbul Jaya, New Ismo, Sedya Mulya, Purwo Widodo, Purwo Widodo Mulyo, Purwo Putro, Sari Giri, itu baru segelincir nama nama PO berdarah asli Wonogiri. Jika ditambah dengan nama PO pendatang seperti Gunung Mulia, Safari / Royal, Sindoro Satriamas, Putera Mulya, Lansung Jaya, Rosalia Indah, Handoyo, Pahala Kencana, Armada Jaya Perkasa, Cah Angon Bejo, Laju Prima, Agra Mas, dan Haryanto, mungkin jumlahnya akan sebanding dua kali lipat dari jumlah nama PO di beberapa daerah yg telah saya ulas di atas.
Mungkinkah karena Wonogiri terkenal dengan penduduknya yg lebih dominan merantau, sehingga sebanding pula dengan jumlah bis sebagai sarana transportasi unggulannya. Ataukah karena tempat tujuan akhir bis di Wonogiri terpecah menjadi tiga titik yaitu Pracimantoro, Baturetno, dan Purwantoro. Dan bisa juga lantaran benteng untuk menembus trayek Wonogiri itu memang rendah, sehingga banyak PO yg dengan mudah melompatinya.

14 June 2014

Kondangan

Dalam adat Jawa, istilah Kondangan bukan berarti acara menghadiri sebuah pesta pernikahan atau hajad semacamnya. Jika mengacu ke hal demikian, maka di masyarakat Jawa lebih umum menyebutnya dengan kata 'Jagong'.
Kondangan di budaya Jawa adalah kegiatan semacam upacara yg dilakukan oleh beberapa orang dengan dipimpin oleh seorang 'Modin', yg pada saat dilakukannya disertakan semacam sesaji.
Maksud dan tujuan dilakukannya kondangan adalah serta merta untuk menghormati pada paham Animisme dan Dinamisme. Mengenai waktu dan rangka pelaksanaan kondangan itu sendiri tidaklah selalu sama, berbagai moment atau peristiwa bisa saja menjadi latar orang melaksanakan kondangan.
Kondangan dihadiri oleh warga sekitar yg sebelumnya telah disuruh oleh tuan rumah untuk datang, peristiwa itu biasa disebut dengan 'atur-atur'. Dari sekian banyak tamu yg datang, yg pertama kali hadir biasanya adalah 'mbah modin' yaitu orang yg memimpin jalannya kondangan. Modin itu sendiri tidaklah orang sembarangan, biasanya modin itu adalah sesepuh atau orang yg dituakan oleh warga, serta sudah memiliki wawasan yg luas tentang paham yg berlaku di adat suku Jawa.
Selanjutnya modin itu seorang diri membaca mantra dengan dupa berupa kemenyan yg dibakar di hadapan serangkaian sesajen (sajen) yg diperuntukkan untuk para leluhur (disebut dupo). Mantra biasanya dilisankan secara lirih, sehingga komat kamit'nya tidak begitu terdengar oleh orang lain. Pada saat itu warga lainnya belum aktif mengikuti pelaksaan kondangan, bahkan bisa saja ada yg belum datang.
Selesai modin melakukan dupo dan warga telah berkumpul, maka pelaksanaan kondangan siap untuk digelar. Para warga duduk secara melingkar, menghadap ke sajian yg terletak ditengah tengahnya. Sajian itu biasanya berupa nasi putih yg sudah dibentuk, yaitu Golong adalah nasi yg dibentuk menyerupai bangun tabung, dan Giling adalah nasi yg berbentuk kerucut. Keduanya ditata dalam sebuah wadah dengan dan di pusat tatanan itu ada satu bentuk nasi lagi yg bernama Asahan, yaitu seperti halnya nasi Giling tetapi dengan ukuran yg lebih besar. Di antara nasi putih itu, disertakan pula lauknya, umumnya adalah oseng tahu, tempe, kentang, srundeng, dan lauk utamanya berupa ayam goreng atau telur. Untuk nasi golong karena bentuk permukaannya rata, maka lauk itu akan ditempatkan persis di atas nasi dengan sehelai daun pisang sebagai pembatasnya. Sedang karena nasi giling mempunyai bentuk yg lancip, maka lauknya dipisahkan dengan diletakkan dalam wadah yg dibuat dari daun pisang bernama takir.
Dalam saijian itu juga terdapat 'jenang jangkep', yaitu jenang tiga rupa, masing masing jenang merah, jenang putih, dan jenang katul.
Selain itu, tersaji pula apem dan kembang setaman.
Setiap bentuk dan jenis sajian itu memiliki arti tersendiri.
Di sini lagi lagi modin akan kembali membacakan mantra, dalam hal ini biasanya disebut dengan istilah 'njawabne'. Dimana modin akan membahas tentang arti dari masing masing sajian tadi. Bahasa yg digunakan sebenarnya adalah murni bahasa jawa, namun karena tingkat ke'krama'an-nya begitu tinggi, apa yg diucapkan modin itu susah susah gampang untuk dipahami. Yg jelas modin menyampaikan maksud dan tujuan dari pelaksanaan kondangan itu kepada pada leluhur atau tempat tempat yg dikramatkan dan diyakini memiliki kekuatan magis. Dari setiap maksud dan tujuan yg diucapkan modin, dan sebelum mengungkapkan maksud dan tujuan selanjutnya, di sela sela itu warga yg mengikuti kondangan serentak mengucapakan kata 'nggih' sebagai pertanda bahwa dirinya menjadi saksi atas apa yg didengarnya.
Sesi akan diikuti dengan pembacaan doa, yg akan diamini oleh para pengikut kondangannya.
Setelah njawabne selesai, acara akan dilanjutkan dengan pembagian sesajian itu kepada semua peserta kondangan, ini dikenal dengan istilah 'mbruncah'. Nasi dan lauk itu akan dituangkan di atas selembar daun jati sebagai wadahnya. Sajian yg telah didapat boleh langsung dimakan di tempat, boleh juga untuk dibawa pulang dengan cara dibungkus dengan wadahnya atau sebutannya 'berkat'. Dengan berakhirnya sesi pembagian ini maka selesailah susunan acara sebuah kondangan itu dilaksanakan.
Sesuatu yg melatari pelaksanaan kondangan itu beragam.
'Kething-kething' adalah kondangan yg dilakukan untuk menyambut kelahiran seorang bayi, yg dilakukan saat bayi itu berumur sepasar (5 hari), selapan (36 hari), 3 bulan, 7 bulan, 1 tahun, dan 1,5 tahun. 'Piton-piton' adalah kondangan yg dilakukan ketika ada bagian keluarga yg dinyatakan positif hamil, waktu pelaksanaannya yaitu sebelum janin berumur lebih dari 7 bulan, di dalam piton-piton atau pitonan biasanya sesaji yg di hidangkan dilengkapi dengan ayam ingkung berjumlah 7 buah. 'Brokohan' adalah kondangan untuk sebuah barang berharga yg baru dibeli, seperti mobil atau hewan ternak seperti sapi. 'Mendhak' adalah istilah penyebutan pelaksanaan kondangan untuk orang yg telah meninggal, waktu pelaksanaannya adalah 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, dan 1000 hari pasca meninggalnya orang itu, dalam kondangan ini biasanya disertai dengan yasinan (pembacaan surat yasin) sebagai kiriman do'a kepada orang yg telah meninggal. 'Megengan' dan 'Badan' adalah kondangan yg dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dan Syahwal.
Kondangan dinilai secara prosesinya memang terkesan adanya unsur spriritual, ini lantaran kepercayaan nenek moyang dulu pada sebuah aliran Animisme dan Dinamisme, perihal inilah yg menimbulkan selisih dengan norma keagamaan, sehingga tradisi yg telah turun temurun itu pun mulai menimbulkan pro kontra, bahkan kini kondangan yg telah menjadi adat itu pun mulai ditinggalkan oleh sedikit orang.

13 June 2014

Bis Pariwisata Berseliweran di Wonogiri

Memasuki moment libur panjang, pasti ada sesuatu yg terlihat 'baru', yg biasanya tidak begitu menonjol, kini karena volumenya yg berstatus rame sehingga menggugah pandangan, alhasil membuat kita bakal menyadari akan itu.
Ya, itulah fenomena bis pariwisata, bis yg dalam hari hari biasa mungkin lebih sering leyeh leyeh di garasi, kini mulai kwalahan menyanggupi banjir order.
Di daerah yg kaya akan pariwisata, seperti halnya yg kita kenal di Bali dan Yogya, tentu jumlah bis yg berseliweran berlevel paling banyak daripada daerah lain yg minim daerah tamasya, pasalnya memang di kota yg punya daya tarik itulah nantinya mobil penumpang berukuran besar itu akan berlabuh.
Mungkin para Bupati atau Gubernur'nya begitu senang kala menjumpai barisan bis yg membawa rombongan anak TK, anak SMP, anak kuliahan, karyawan pabrik, keluarga besar, komunitas, bahkan ibu ibu PKK menjamah daerah kepemimpinannya. Karena dengan adanya roda yg berputar dan selanjutnya parkir di tanah yg di'ayomi, maka dibarengi pula oleh adanya wisatawan yg berkunjung ke sana. Di sektor wisata yg di kelola pemerintah setempat, tentunya kehadiran para turis domestik ataupun manca itu bakal menambah pundi pundi pendapatan daerah, itu keuntungan bagi penggedenya, lantas untuk para rakyatnya pun tak luput kebagian rejeki lewat omset dari pernak pernik, cinderamata, kerajinan, mainan anan anak, oleh oleh, persewaan, es kelapa muda, es buah, bakso, soto, tongseng, obat kuat, obat cari jodoh, obat galau, dan segalanya yg bisa diperdagangkan. Di luar itu juga akan menciptakan kebanggan tersendiri lantaran tempatnya diprimadonakan mayoritas orang, berbagai orang dari segala penjuru tiba, menikmati, dan memuja karena sebuah pesona serta pengalaman. "owh jadi ini pantai Sanur yg terkenal Sunset'nya itu", "ini to wujud candi Prambanan yg fenomenal itu", sungguh kekaguman itu akan membawa nama pemiliknya begitu agung di mata pengunjung, "Bali memang indah", "Yogya tak akan ku lupakan", "Gak nyesel jauh jauh ke Malang".
Yaaah, ibaratnya daerah daerah yg memiliki daya pikat tinggi itu adalah individu yg punya aset melimpah sekaligus figur publik, maka untuk meraup untung serta menjadi terkenal segampang pepatah membalikkan telapak tangan.
Sedangkan di Wonogiri, aset apakah yg laku dijual, yg kiranya bisa mendatangkan para pelancong datang, lebih lebih dari bangsa nan jauh di sana.
Kalau bicara tentang potensi SDA yg layak dijadikan pelet, dimanakah surga itu terletak? Biarpun tak berarti nihil, namun perkembangannya belumlah mampu menjelma menjadi magnet bagi khalayak yg haus panorama.
Di sektor budaya dan adat istiadat, rasanya begitu fana untuk dijadikan obyek yg mampu membuat mata asing mau melirik. Jelas saja, reality'nya kalau penduduk asli Wonogiri ingin menggelar kethoprak yg merupakan original art Jawa Tengah saja, mesti mendatangkan grup seni dari Solo. Apalagi soal adat istiadat, yg kian hari kian luntur jalaran pro kontra serta kepercayaan.
Maka, tidak berlebih jikalau di jalanan Wonogiri kala memasuki liburan pun juga banyak 'berseliweran' bis pariwisata dari luar daerah. Mau kemanakah mereka, apa yg didambakannya dari Wonogiri sampai rela menyewa bis untuk mencapainya?
Entah dimana titik tujuan mereka, yg pasti bukanlah di Wonogiri dermaga bis bis itu, sekali lagi mereka hanya 'berseliweran' alias 'lewat' doank. Bisa saja mereka itu rombongan dari Solo yg hendak berekreasi ke Malang, atau dari Ponorogo yg akan menuju Yogya, dan Wonogiri hanyalah menyandang tahta sebagai jalur alternaifnya semata.
Kapan ya bis bis itu akan berhenti di Wonogiri, tertata rapi layaknya di Bali atau Yogya?

2 January 2014

Pantai Nampu, Sisi Lain Panorama Wonogiri

Sawah, kebun, sungai, bukit, dan belantara lainnya sudah menjadi pemandangan biasa di Wonogiri. Tak salah memang, mendengar nama daerahnya saja, tidaklah tabu bahwa tekstur alamnya belum beranjak dari hutan (wono) dan gunung (giri).

Dengan kondisi alam seperti itu, dulu masyarakatnya harus menuju daerah lain untuk sekedar berwisata ke sebuah pantai. Teleng Ria yg berada di Pacitan dan Parang Tritis di Yogyakarta merupakan objek alternatifnya. Baru baru ini, tersirat kabar di dumay, bahwa ternyata ada sebuah pantai di Kabupaten yg dipimpin H.Danar Rahmanto itu, ya pantai Nampu, yg terletak di wilayah pesisir selatan, tepatnya di kecamatan Paranggupito.
Baru ngeh juga kalau ternyata wilayah kota gaplek juga berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, rupanya aku masih begitu awam menjiwai tentang tlatah asli panggonan'ku, ya mungkin begini lah imbas sebuah daerah kecil yg terpelosok, jauh dari keramaian sehingga jauh pula dari pandangan mata untuk mengenalinya. Berbeda dengan liku liku ibukota, dimana semua orang tau tentang setiap sudutnya, eh biarpun begitu, bagiku ya tetap kampungku lah surgaku...


Menyikapi hal itu, rasanya jadi kesemsem dengan pantai Nampu, bisa menikmati sebuah potensi yg dimiliki ranah lahirku, tentu sebuah nilai plus sebuah wisata. Tanpa ragu, tujuah liburan tahun baru 2014 ini adalah ke pantai Nampu.
Perjalanan di mulai dari Purwantoro menuju Ngadirojo, dari sana mengarah ke jalan menuju Baturetno. Dari pasar Baturetno perjalanan masih berlanjut hingga ke persimpangan Giriwoyo, selanjutnya ke arah kanan melewati Jalan Raya Baturetno-Pracimantoro, keadaan jalan di sini lumayan lebar, namun keadaannya mulai berlubang, mungkin dikarenakan kondisi lalu lalang kendaraannya yg sepi sehingga masih enggan untuk dilakukan perbaikan.
Berujung di perempatan Giribelah, dimana di titik inilah ruas jalan dari Batu dan Praci dipertemukan, mungkin ini pula yg melatar belakangi jalan raya dari Batu sepi, karena banyak wisatawan yg berasal dari arah barat sehingga lebih memilih untuk mencapai lokasi ini dari Praci.
Di sini, jika dari arah Batu maka mengambil ruas jalan yg lurus sebagai akses menuju kecamatan Paranggupito. Dengan ukuran jalan yg hanya pas-pas'an saja untuk dilalui dua mobil secara berjajar, serta kontur yg menanjak dan menikung dengan nuansa pohon jati di tepi kanan dan kiri, mengkondisikan kenaturalan sebuah daerah kecil di dalamnya. Semakin ke dalam jalan kian menciut serta berlubang, tikungan dan tanjakannya pun makin menguji adrenalin, bahkan ada beberapa di antaranya yg memangkas jarak pandang, dengan keadaan jurang dan bukit di sisi kanan kiri, memaksa salah satu harus berhenti manakala berpapasan dengan sesama mobil.
Karena ini merupakan ekspedisi pertama, rasa was was akan salah jalan selalu ada, akhirnya arahan dari warga yg kami tanyai bisa menjadikan kompas perjalanan ini. Tak perlu sungkan bertanya, kehadiran wisatawan di sini terlihat disambut baik oleh warga asli, itu terbukti dengan simpatinya dalam memberikan petunjuk saat kami berhenti bertanya, bahkan sepertinya mereka tau terlebih dulu tentang apa tujuan kami, yaitu bertanya tentang keberadaan pantai Nampu, seolah kebahagiaannya turut terukir tatkala banyak orang berdatangan untuk meramaikan potensi yg terkandung di daerahnya.
Sampai di kantor balai desa Gunturharjo, terdapat sebuah pertigaan lagi, untuk ke pantai Nampu yg ke arah kanan dengan jarak 9km, sedangkan yg ke kiri adalah menuju pantai sembukan.
Medan perbukitan yg berkelok naik turun menumbuhkan rasa deg-deg'an, serasa betapa panjangnya jalan untuk menuju surga yg bersembunyi di balik sana, namun ini hanyalah bagai petuah 'berakit rakit ke hulu berenang renang ke tepian' karena sesampainya di lokasi pantai, niscaya segala ceria bakal meluluhkan perasaan gundah itu.
Tarif masuk untuk mobil addalah 4000 rupiah dan untuk motor 2000 rupiah, serta tarif masuk per orang sebesar 1000 rupiah, ditambah biaya sewa parkir senilai 4000 rupiah untuk mobil dan 2000 rupiah untuk motor. Karena saat itu persediaan lahan parkir untuk mobil telah penuh, maka terpaksa mobil pun hanya terparkir di tepi jalan tak jauh dari lokasi.
Untuk mecapai bibir pantai, di Nampu ini harus menyusuri anak tangga terlebih dulu, baru kita akan disambut oleh hamparan pasir dan air laut.




Ombak di pantai ini tidaklah begitu besar, cocok untuk kita yg berkehendak berenang di pantai, namun karena banyak batu karang yg tumbuh di sini, sehingga harus sedikit hati hati agar tidak menyasar pada telapak kaki.



Urusan konsumsi tak perlu khawatir, karena telah tersedia berbagai jajanan yg dijual di sini.
Sayang, saat itu cuaca tidak mendukung, tak ada sorot mentari sedikitpun, membuat pesona pantai ini tidak dikelabuti oleh birunya langit, bahkan grimis pun sempat beberapa kali menghujam.
Namun sekiranya tak menyurutkan bahagia, bisa berkunjung, melihat hamparan samudera luas, dan berbaur dengan ombak yg datang, sekaligus mencicipi keindahan sisi lain panorama alam Wonogiri.





 





Nampu,,, It's Nirvana Behind the Hill...

4 December 2013

Liku Liku Jalanan Wonogiri

Banyak yg merasa jalanan antara kecamatan Purwantoro sampai kecamatan Ngadirojo Wonogiri terlalu berkelok kelok, tak terhitung berapa banyak tikungan yg harus dilalui di sepanjang jalur itu. Keadaan itu tak jarang membuat sebagian orang yg tak peka akan mabok perjalanan riskan untuk berpergian jikalau harus melintasi jalur sepanjang 40'an km itu, bahkan banyak yg ber'opini bahwa lebih nyaman menempuh perjalanan ke Ponorogo yg notabene telah berada di luar provinsi Jawa Tengah daripada ke Wonogiri kota, meski line yg menghubungkan Purwantoro-Ponorogo juga harus terhadang oleh sederet tikungan tajam yg sering disebut sebut sebagai jalan "ongko wolu (angka 8)" di desa Biting, namun selepas alas kucur yg berarti telah memasuki batas wilayah provinsi Jawa Timur, maka untuk sesampainya ke Ponorogo tak akan dipusingkan lagi oleh berbagi lekukan lintasan aspal.
Tatanan jalan 1001 tikungan itu acap kali membuahkan tanya oleh para penggunanya, apalagi dengan adanya sebuah tikungan yg dikenal dengan sebutan "irung petruk", membuat siapapun menepis keheranan 'kenapa kok jalannya dibuat menikung seperti ini, padahal seandainya dibuat lurus pun bisa, malah akan memperpendek jarak tempuhnya', mungkin ini juga lah yg membuat jarak antara Purwantoro-Wonogiri mencapai sekitar 45 km, andaikan rutenya mengacu pada ukuran lurus antara titik keduanya, tak mustahil bilangan kilometernya tak sedemikian.
Menanggapi kalimat keheranan sebagian orang, lebih lebih orang yg kali pertamanya menjejakkan langkah di jalur yg merupakan lintas provinsi itu, terlalu jauh jikalau menerawang jauh ke belakang, segelintir memory masa lalu dari para 'simbah' menyebut bahwa jalan itu telah ada sejak awal keingatanya, sehingga bisa dibayangkan seberapa tua umur dari jalan kelas 3C itu.
Sisa sisa ingatanku, pernah diceritakan oleh pak guru IPS sewaktu SD, bahwa jalan itu merupakan bagian dari bentang panjang Jalan Pos antara Anyer-Panarukan, namun dari hasil penelusuran di dunia maya tiada yg membeberkan bahwasannya proyek yg di kepalai Herman Williem Daendels itu melewati tanah Wonogiri, jadi kesimpulannya jalan itu bukanlah progress dari kerja rodi di kurun waktu antara tahun 1808-1811.
Menilik ke berbagai sumber, hasilnya pun nihil, tiada penggalan pengalan kalimat yg mungkin bisa terangkai untuk mengupas asal muasal jalan yg melewati kecamatan Slogohimo, Jatisrono, dan Sidoharjo itu. Di website resmi kabupaten Wonogiri, terselip artikel tentang sejarah kota ber'ikon gaplek itu, namun ulasan yg meruntunkan kemasaan Raden Mas Said hingga bupati Danar Rahmanto itu tak jua mencangkup akan latar belakang jalan rayanya.
Namun andaikan gagasan ini boleh menjawab tentang kemisterian jalan yg direkayasa dengan liku sedemikian rupa itu, 'jalannya waktu' bisa menjadi jawaban sebagai alasan yg terkait erat dengannya.
Seingat'ku dulu pinggiran aspal sepanjang jalan masih lengah, berbeda dengan sekarang yg mulai ramai berdiri berbagai lapak maupun bangunan permanen memanfaatkan lahan kosong yg berbui di sisi kanan kiri jalan, ini gambaran akan sebuah perbandingan antara yg lalu dan saat ini.
Jika mengendus jauh ke zaman yg lebih dulu lagi, mungkin tekstur alam Wonogiri belumlah seperti kini, dari latar namanya yg berarti "Gunung dan Hutan", setidaknya bisa menjadikan bayangan map Wonogiri tempoe doeloe. Maka sudah seyogyanya jika rute jalan dibuat berkelok untuk menghandari keberadaan sebuah tumbuhan besar, tebing curam, batu besar, atau bukit yg sulit untuk dihilangkan adanya, maka akan lebih mudah jikalau kontur jalan dibelokkan melalui medan yg bebas dari adanya gejala alam yg menghalang tersebut.
Ini menguatkan tepisan dari cerita yg pernah ku dapati sewktu SD di atas, bahwa jalan ini tidaklah tercipta oleh kekuasaan Daendels di Indonesia, pasalnya kekejaman anak buah Louis Napoleon dalam meng'otak'i kerja rodi terasa begitu mustahil jikalau tak mampu menetralisir adanya benda alam semacam tebing dan bukit, bukti ketangguhan dari kekejamannya adalah jalan di pesisir Pantai Ptara yg justru lurus tak banyak tikungan. Sehingga jika pun jalan di Wonogiri adalah sisa sejarah penjajahan kolonial, mungkin itu sebelum era pemerintahan Daendels.
Ini adalah opini pribadi, berhubung asal usulnya masih begitu rahasia bagi semua, tak jarang pula ada yg beropini lain, semisal penyebab jalan dibuat meliak liuk adalah supaya kendaraan pada zaman dulu kuat untuk mendaki medan yg menanjak.
Bahkan ada yg menyelewengkan tujuan dari kontur jalan yg dibuat berliku itu adalah untuk menambah panjang jaraknya, dengan jarak yg semakin panjang itu maka anggaran biayanya semakin besar, sehingga laba pihak kontraktor pun bertambah besar pula.
Mana yg benar? Ngapunten...

1 December 2013

Kethoprak, Seni Asli yang Tereliminasi

Pun asli Jawa, namun andai saja ditanya tentang Ketoprak, hmmm apa ya kata kata yg mesti terlantun sebagai jawaban ku???

Ketoprak memang kesenian asli dari Jawa, kebudayaan yg lahir dan berkembang di kehidupan masyarakat suku Jawa. Namun hingga lebih dari 22 tahun umurku, belum pernah sekalipun mata ini memandang langsung pentas seni budaya daerah itu, hanya sekedar cerita bak sejarah tentang masa masa kepopulerannya dulu sering kali terdengar dari para orang tua. Yg aku tau, konon dulu di desaku pernah mempunyai grup Ketoprak dengan nama "Cinde Budoyo", entah sejak kapan grup itu bubar, karena aku tak jua pernah menjadi saksi mata pementasannya, hingga kini hanya tinggal kenangannya saja yg tetap utuh abadi.
Semuanya, bisa menjadi gambaran tentang keberadaan kesenian Ketoprak di era kini, dimana fenomenalnya ketika itu telah luntur, pudar dari pandangan, lenyap dari kesaksian, mati tertelan jaman, dan hilang tergantikan.
Kesaksian pada pertunjukan Ketoprak, justru ku alami baru baru ini. Di balik pamor Keroprak yg kini tengah adem ayem tak menunjukkan gelagatnya, dan di samping gegap gempita hiburan lain seperti Campur Sari, Orkes Melayu, Wayang Kulit, dan Reog, dalam rangka HUT RI ke-68 kemarin, pementasan Ketoprak di daerahku turut memeriahkan peringatan hari jadi republik ini.
Awalnya memang sungkan, enggan untuk bulatkan tekad tepis keraguan, "hemmm Ketoprak, tontonan apa sih? Pasti juga tak seindah ketika masa keemasannya dulu".
Namun segala keraguaan dan tak utuhnya niatan menyaksikan Ketoprak untuk yg pertama kalinya, spontan musnah ketika pentas dimulai. Judul atau cerita yg diperankan bertema tentang mitos "Sebrang Lor Sebrang Kidul", ya cerita dalam Ketoprak umumnya diambil dari sisi kehidupan nyata, berbeda dengan pertunjukan Wayang yg mengutip cerita dari Ramayana dan Mahabarata.
Dari awal, pementasan sering kali dihiasi dengan humor oleh para pemerannya, ini berbeda dengan biasanya, yg mana humor pada Ketoprak hanya terjadi saat bagian Dagelan dipentaskan sebagai adegan selingan dan di luar dari tema yg diceritakan, mungkin ini adalah solusi untuk menarik perhatian penonton, sehingga candaan candaan lucu menjadikan adegannya tak terasa monoton.
Semua yg melayangkan bola matanya ke arah panggung, entah Pria atau Wanita, Tua atau Muda, Gadis atau Janda, semua seakan terhipnotis, konsentrasi dan fokusnya terbawa oleh adegan dan lelucon yg diperankan.
Nah, meski jaman telah berganti, ternyata antusias masyarakat dalam menanggapi Ketoprak masih begitu positif. Pementasaan Ketoprak pada saat saat ini mungkin bisa menjadi sebuah jalan untuk upaya pelestarian kesenian asli daerah yg berada di ujung musnah, semoga pentas kemarin merupakan cikal dari kebangkitan Ketoprak ke depannya nanti.

14 October 2013

Waterboom Masuk Kampung

Menerawang jauh ke belakang, terlintas beribu masa lalu, teringat akan kenangan saat saat belumlah beranjak dewasa dulu. Air, bukan saja berperan sebagai pokok kehidupan, berkecimpung dengan media air terasa sangat menyenangkan apalagi bagi anak anak seumuranku dulu.

Zaman itu selalu berubah, dulu semua belumlah berevolusi, perkembangan era urung ku rasakan bersama sahabat sahabat kecilku pada masa itu. Sungai adalah tempat favorit untuk sekedar mendapatkan fasilitas genangan air yg luas dan dalam demi mengobati rasa nyidam akan yg dinamakan berenang. Sekalipun apa yg dilakukan itu mesti diam diam dari sepengetahuan orang tua yg tak pernah menghalalkan bermain di sungai lantaran resiko banjir yg kedatangannya tak pernah terkira.
Bukan hal yg patut direaksi dengan gelengan kepala, mengingat kenyataan keberadaan sebuah kampung kecil memanglah tak semegah ibukota, jangankan wahana dunia air, kolam renang pun masih langka adanya.
Bila sekarang pandangan terlukis akan memory tersebut, mungkin senyum ini akan menyiratkan fakta batin "itu kan dulu..."



Hano Waterboom, sebuah wahana taman air yg terletak di desa Sudimoro, kecamatan Sidoharjo. Sebuah Waterpark satu satunya di Wonogiri saat ini yg menawarkan wahana bermain di area kolam renang baik untuk anak anak maupun dewasa.
Tiket masuk untuk semua umur adalah 15000/orang pada hari biasa, sedangkan untuk peak season dikenakan kenaikan sebesar 5000.
Di dalamnya terpadat empat kolam renang dengan air yg tampak membiru, jika tak sabar untuk segera menyelaminya maka kita diharuskan untuk berganti pakaian renang yg disarankan oleh penjaganya di kamar khusus berganti pakaian (bukan toilet), yg terpenting adalah larangan untuk memakai celana jeans saat berenang. Pun kita lupa atau secara sengaja tidak berbekal pakaian renang, maka tersedia pakaian khusus renang baik  yg dijual ataupun hanya sekedar disewakan saja.
Untuk dewasa disediakan kolam renang utama yg cukup lebar dengan kedalaman maksimal 1,5 meter, di sini kita bisa melompat, menyelam, ataupun mengapung. Untuk yg tidak bisa berenang pun jangan berendah hati, karena balon udara akan membantu anda berada di tengah kolam dengan harga sewa 5000 untuk waktu yg unlimited.





Bosan berenang, kita bisa mencoba beralih ke wahana seluncuran, dan rasakan sensasi bond setinggi 4 meter dengan panjang lintasan 10 meter ini, begitu selesai melintasi sirkuit seluncuran ini kita akan langsung sampai di kolam renang ke-dua yg merupakan kolam landasan terjun kita.


Bagi yg bersama buah hatinya, disediakan pula kolam ke-tiga dan ke-empat yg lebih dangkal, manjakan putra putri kasayangan dengan arena yg disediakan. Di kolam ke-empat terdapat juga wahana air tumpah, buat diri kita tertawa riang sesaat terguyur air dari atas.
Tak perlu kawatir akan keceriaan si kecil yg kita bawa, balon udara khusus anak anak pun tersedia di sini, atau ketika dia bosan di dalam air, arena bermain seperti di sebuah play grup pun dibenamkan pula. Dan kita pun bisa mengawasinya dari tempat yg telah diperuntukkan untuk duduk santai ataupun beristirahat.







Haus, lapar? Tenang, ada kok lapak yg menjual aneka minuman dan makanan ringan. Jika kurang puas, kita bisa keluar sebentar untuk memesan makanan di Hano Resto, tentunya dengan seizin penjaga sehingga untuk memasukinya kembali tak perlu membeli tiket lagi.
Memang ada larangan untuk tidak makan dan merokok di area kolam seh, tapi tak perlu kawatir karena memang telah disediakan area khusus untuk itu.




Namun karena ini adalah republik Indonesia maka sudah sepantasnya jika peraturan itu tidak diindahkan dengan menaatinya. Jadi bagi yg enggan untuk nyebur ke air, kita bisa mengisi waktu dengan ngemil atau merokok disini...


Atau kita bisa seperti ini...


Kalu tidak, bisa juga mencari wahana lain seperti ini...

Malu ach difoto pake kamera bagus...
Ayo cepetan donk, malu tuh banayak cowok cakep...
Rasa dingin yg menyerang mungkin baru menyadarkan kita akan berapa lama kita di sini, jika telah puas, untuk mengurai rasa dingin sekaligur mengeringkan pakaian kita bisa sejenak berjemur.

Narsis dulu, kali aja masuk blogspot...

Pas banget dengan backgroundnya...

Wahana Satwa pun juga ada...
Nah bagaimana? Biar tak selengkap Waterpark di Pantai Kuta dan Pantai Indah Kapuk, namun keberadaan Hano Waterboom ini cukup bisa mengobati demam kita akan bersuka ria di air sekaligus bisa menghantikan keberadaan sungai sebagai medan arena'nya kan...
Monggo mencoba...