Kategori

Showing posts with label Romantika Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Romantika Perjalanan. Show all posts

10 July 2018

Surga Yang Tak Dirindukan


"Sik, lagi mampir agen Simpang Depok...", selarik balasan dari teks 'centang biru' yg ku layangkan pada seorang teman pagi itu. Sontak, Aku tak bisa terdiam dengan posisi awalku, rasa kaget atas dasar heran semu tak percaya menggugah syaraf ini dari keadaan 'ngglethek'.
Puasa pertama masih menyisakan jam panjang untuk sampai pada jadwal ngabuburit. Artinya, masih harus melewatkan beberapa minggu lagi untuk mencapai tanggal musim mudik. Pun pricelist sebagian PO sudah ada yg turun, namun berburu tiket dari sekarang tidakkah terlalu dini?

Sayang, ekspetasiku malah melenceng, sesampainya dari agen, temanku harus rela dengan sisa satu kursi di tanggal 10 besok, sedang rencana untuk 'mudik gasik' pada tanggal 8-9 harus terkubur imbas kursi di data list agen sudah terlingkari lebih awal.
Lagi-lagi Aku terlena akibat kesombonganku, dua tahun terakhir Aku hanya pasrah diri pada bis rombongan yg membawaku menuju kampung halaman, harusnya sadar diriku mengilhami bahwasanya sebanyak dua kali arus mudik itu Aku melewatkan perkembangan pasar tiket bis di hari lebaran.

Pun begitu, apa boleh buat, Aku bukanlah seorang yg tercatat sebagai karyawan di sektor formal, yg dengan gampangnya menentukan tanggal kepulangan mereka setelah kalender cuti bersama perusahaannya diturunkan. Sedangkan Aku yg hanya menghambakan jalan rizki pada mandor, yg belum ada titik terang kapan proyek akan kelar, jelas bukan hal mudah bagiku mendaftarkan diri beserta Down Payment pada sebuah nama bis. Bisa saja Aku pulang lebih awal, atau malah paling mepet hari H lebaran.

Ah, rasanya Aku dihakimi oleh diri sendiri. Semua itu bagai sebuah pembelaan semata, bukan perkara itu yg membuatku mengurungkan niat mencalonkan diri sebagai penumpanng. Justru kencondonganku menyaring satu nama yg bakal mejadi singgasana nanti belum memasuki babak final.
Tercatat, Putera Mulya P02 adalah bis yg membawaku ke Bekasi bulan Agustus tahun lalu, dan sejak itu hingga kini Aku tak pernah lagi sekadar mencicipi citra rasa bis malam. Rosin, STJ, Pumas 2nd Aniversary Edition, adalah bentuk nyata progresif bis line Purwantoro yg hanya mampu Aku nikmati secara maya. Kalau sudah didalangi sejarah seperti itu, justru haram hukumnya jikalau Aku gegabah dalam mengejar coretan tanggal dalam tiket sementara label di atasnya terabaikan.

Telebih lampu hijau dari istri untukku pulang terlebih dulu sudah menyala terang. Serasa terkena sabetan pecut untuk semakin menguatkan asa ku dalam menentukan pilihanku kali ini. Setidaknya Aku lebih leluasa karena tidak terikat jadwal cuti serta jam pulang kerja istri yg sering kali menyiutkan selera Kami dalam memilih bis.

Bukan boking untukku yg menjadi prioritas, justru sewaktu Aku meninggalkan daerah Cileungsi nanti, mutlak sudah ada tiket atas nama istriku sebagai bekal saat menyusulku.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain agen lain bokednya. Berbeda dengan agen Simpang Depok, suara lantang Ibu Ayu masih mengisyaratkan tersedianya kursi kosong untuk tanggal 12 bulan depan, tanpa pertimbangan lagi Aku mendaftarkan nama istriku sebagai satu penumpang yg akan dibawa Scania K410IB Double Decker berkelir kuning keemasan. Memang hanya bis premium itu yg selaras dengan bel pulang kantor istriku, daripada harus menunggu keesokan harinya untuk bisa ikut bis Wonogirian yg umumnya berangkat di jam-jam siang.

Dua hari berselang, ku beranikan menunjuk angka 10 sebagai tanggal yg akan sejukkan ku dari hausnya 'numpak bis' selama 9 bulan terakhir. Entah, apakah proyek akan kelar lebih awal sehingga Aku harus menantikan tanggal itu dengan menyandang status pengangguran, ataukah justru Aku dicap sebagai pecundang lantaran meninggalkan pekerjaan yg belum rampung, apapun resikonya bakal ku indahkan.

Mandiri Online begitu membantu, bukan tempat yg jadi penghalang, namun waktu antara Aku dan jam buka agen sukar sinkron. Berkat aplikasi dari bank BUMN itu Aku sukses mengamankan seat 4C dengan imbalan awal 200K. Baru 3 hari sesudahnya, PT. Graha Segara Behandle selaku owner project ku berbaik hati berbagi waktu, beranjak dari tengah hari Perempatan Pasar Rebo bisa jadi tumpuan kakiku, menutup sisa tunggakan untukku bisa dilagalitas penuh atas kuasaku pada seat 4C.

Ya, final nya, PO yg baru seumur jagung membuka line Purwantoro ini yg ku nobatkan sebagai winner dalam seleksi kali ini.

****

Mudik, di balik kebahagian bertemu istri hebat yg mampu merawat anak-anaknya di kampung, bertemu orang tua kuat yg bisa menahan rasa khawatir akan anak-anaknya yg berada di perantauan, bertemu sahabat dan sanak saudara yg tak bisa setiap kali bertatap muka langsung. Demi sebuah terpaan cinta dalam senandung atas rindu yg telah menggunung, rupanya masih saja tersimpan misteri yg menghantui.
Adalah perihal macet, yg tak pernah renggang kaitannya dengan fenomena musiman umat muslim itu.

Antisipasi menghindari buah kemacetan, yg bila diuraikan bisa bercabang-cabang bentuknya, Aku ragukan janji agen yg mewajibkan Aku chek-in jam 11.00. Maju atau mundurnya jam take off bisa saja terjadi di moment seperti ini, dan alangkah bahagianya Aku ketika agen masih konsisten pada janji awal yg tertulis di tiket. Aku pun hanya telat 1 menit tiba di lapak Pak Supri selaku agen resmi Putera Mulya dan Sudiro Tungga Jaya Pasar Rebo.

Seorang Bapak paruh baya sudah menyambutku di agen, beliau adalah salah satu dari banyaknya korban ludesnya tiket bis reguler tujuan Wonogiri, hingga hanya bisa merasakan empuknya kursi bis pariwisata yg 'biasa' di sediakan pihak agen di musim ramai seperti ini.

"Aku asline Malang Jawa Timur Mas, ning rabi oleh wong Baturetno. Aku yen lebaran ora mulih nyang Malang, rono malah yen Natal, keluargaku kabeh Kristen Mas, mung Aku sing Islam".

Syukurlah Pak, bahagiaku menyertai Sampeyan beserta keluarga. Di tengah kemarakan isu perpecahan yg acap kali dilatari oleh SARA, Anda dan keluarga yg berbeda keyakinan tetap memegang teguh indahnya kerukunan dalam sebuah keluarga.

HDD berkelir hitam putih ber-tag Ka'bai sekadar numpang lewat saja, pun koleganya 'I Nerazzurri' tak jua peduli akan keberadaanku di sini.

"Asline Ka'bai iki lho sing gowo penumpangku ki, malah dirubah neh...", bentuk kekesalan salah satu agen di Pasar Rebo yg juga merangkap agen STJ. Seraya menunjuk bis jurusan Kotabumi-Purwantoro itu, beliau mengungkapkannya pada Pak Supri.

Sebelumnya, petugas agen yg memakai kostum Agra Mas itu mengeluhkan tentang penumpangnya yg marah-marah lantaran awalnya dijanjikan berangkat jam 12 siang namun mundur jadi jam 5 sore. Siapakah penumpang itu? Ya, bagian dari penghuni kabin STJ jurusan Purwantoro. Hmmm, ini artinya??? Ah sudahlah...

Penggede tanah Wilis unjuk bukti jikalau harapan darinya tak pernah palsu, jaya-lah para pemegang 'tiket mahal' nya, tak kurang dari 13 bis susul menyusul menggulirkan rodanya ke arah matahari terbit dalam jangka waktu Dhuzur sampai Azar. Jangankan dibuat jenuh akan squad 'puter walik', kata 'telat' pun seakan tak pernah diindahkan dalam manage-nya. Memang, tuslah harga kelas Patas yg sebanding dengan kelas Executive PO lain bukan tanpa alasan.

Berikutnya, PO pemegang rekor armada tronton terbanyak, mengekor rival sengitnya di jalur Blitar dengan 7 bis dengan rentang waktu satu jam lebih lama.

Dalam jangka waktu yg sama, Agra Mas berhasil mencatatkan urutan di belakang Gunung Harta dengan 6 bis yg salah satunya adalah Double Decker berkode BM089.

7 bis berstiker Shalawat Nabi membuat Haryanto menempati posisi berikutnya, hanya saja waktu yg dibutuhkan 2 jam lebih panjang.

Serta 5 Laju Prima dan 2 Rosalia Indah adalah pemandangan yg menyakitkan bagiku saat ini.

Penumpang dengan tiket Putera Mulya lebih dulu habis setelah S01, M02, dan DD01 bergantian menyambangi agen.

Hingga 19 menit menjelang buka puasa waktu setempat, penumpang bis yg konon 'banter' ini masih terlantar tanpa kejelasan. Kursi persediaan Pak Supri tak cukup menampung para pemudik apes hari itu, hingga pelataran warung di kanan kiri serta trotoar jalan turut merasakan muntahannya.

"Ini Mas, kalau mau komplain soal STJ, langsung telepon ke pengurusnya aja. Aku dah pusing, kalau tau yg nelpon nomerku malah gak diangkat ini".

Digit angka tertulis pada sebuah amplop putih dilekatkan ke dinding semi permanennya oleh Pak Supri.
Seorang Bapak yg hendak ke Magetan bersama istri dan satu anaknya mencoba mencari kejelasan lewat nomor pengurus itu.
Suara dalam speaker tertangkap jelas olehku, namun tanpa disertai kejelasan kapan bis akan tiba di agen, jadi intinya sia-sia lah debit saldo dari pulsa Bapak itu.

"Sesuk yahene buko neng Kedung Roso", ekspetasi yg pernah ku nadakan pada istriku sewaktu berbuka puasa kemarin. Apes, realitanya indera ini masih menangkap kumandang adzan Maghrib di wilayah DKI.
Bukan bab 'putar kepala' biang amarahku, namun bukankah ini adalah sesuatu yg bisa dihindari sejak awal. Andaisaja sebelum ke agen Aku dikabari tentang delay karet ini, niscaya ini justru menjadi sebuah kebahagian, keurungan berangkat ke agen tentu memberi satu kesempatan untukku bisa mencicipi sekadar pembatal puasa bersama istri. Kali ini, Kami masih di dalam lingkup wilayah yg tidak terpaut jauh, namun tidak bisa merasakan kehangatan berbuka bersama, lebih lagi kausanya hanyalah sesuatu yg paling dibenci orang se-dunia, menunggu. Hmmm, sungguh Surga yg tak pernah ku rindukan...

Tuhan memang adil, ditunjukkanlah sebuah keberuntungan bagi mereka yg awalnya kurang beruntung dalam mencari ketersediaan tiket bis malam regular, kali ini mereka justru take-off terlebih dulu dengan sebuah Super High Deck berkelir Manssion.

Senandung ayat-ayat Al-Qur'an sayup mengalun merdu, pertanda usai sudah umat muslim dalam menunaikan sunah tarawih malam ini. Satu persatu tulisan 'TDK MELAYANI PENUMPANG' terlihat di papan runing text armada Cityline, artinya tiba saatnya armada-armada pengusung slogan 'kini lebih baik' itu menjalani pergantian shif dengan kolegannya, AMARI.
Sementara, tak jua satupun stiker 'Eleng Kuat Slamet' menampakkan warna-warninya.

"Piye Pak, enek kabar neh urung?", olahan kata-kata ku tertuju pada Pak Supri.

"Magista wis mangkat soko Pondok Pinang arah rene iki..."

"Magista nyang Wonogiri opo Magetan?"

"Wonogiri lo, bismu. Magetan'e malah urung jelas iki montor'e teko ngendi..."

Akhirnya, setelah melewatkan waktu yg lamanya cukup untuk memangkas jarak Jakarta-Wonogiri di kondisi normal, tersurat kabar atas apa yg ku tunggu rino nganti wengi ini.

Deretan kursi made in Malang yg terbalut selimut ala bed cover warna selaras dengan siraman cat bisnya ini masih banyak yg tidak bertuan ketika kakiku menginjakkan papan Haidek-nya, hanya baris tempat dudukku ke depan saja yg terisi, plus lima penumpang lain yg naik bersamaku menuju kursi posisi buritan.

GT Pasar Rebo sebagai garis start untuk driver membejek pedal gasnya di JORR, sayang kaki kanannya harus rajin memadu padankan dua pedal lantaran sedikit kemacetan mulai menghadang menjelang simpang sususn Cikunir. Seandainya keberangkatan ini on time, google map masih menggambar rute ini dengan warna hijau.

Jejeran lapak yg ketika siang sampai sore seperti pasar tumpah di jalan HM Joyo Martono kini sudah menampakkan kesunyiannya, rolling dor, folding gate, dan berbagai jenis pintu utama lainnya sudah terlihat tertutup rapat. Hanya agen Ibu Ayu yg masih terbuka lantaran DD03 masih nampang di depannya.
Penunggu setia yg naik dari agen Depsos ini pun belum juga memenuhi kuota separo saja dari total jumlah seat.

Kembali berkutat dengan kepadatan di tol Jakarta-Cikampek. Penghentian pekerjaan di bawah tangan Waskita Karya sepertinya tidak mulus sebagai solusi menghindarkan terjadinya keruwetan lalu lintas di sini, justru membludaknya mobil kecil lah yg menambah sempitnya jalan sepanjang jalur mudik.
Tidak perlu meng-kambing hitamkan pemerintah, lebih-lebih Presiden, karena semua ini jelas saja di luar kuasa wajib orang nomor satu di negeri ini.
Berbagai upaya telah dilakukan dinas terkait, bahkan pihak swasta seperti kontraktor jalan tol pun urun dalam hal ini, namun ketika volume kendaraan melebihi permukaan aspal yg ada, realitanya tetap saja bagaikan ember yg diisi air dari drum, tumpah ruah.
Yen pengen ora macet, mudik wae yen ora ngepasi lebaran, penak to?

Budiman 3E154 memilih antrian yg kurang pas di GT Cikarang Utama, begitupun Scorpion King berlabel Dieng Indah, sehingga e-tol card yg dipegang driverku bisa lebih dulu ditempelkannya.
Prima Jasa yg membawa pemudik tujuan Tasik menjadi panutan HDD berkelir hijau ini dalam melibas bahu jalan. Kanaya Trans dilewati keduanya bersama puluhan mobil pribadi di Cikarang Pusat.
Adalah KM 39, Rest Area yg dalam kondisi ditutup sementara ini masih saja menjadikan antrian panjang di dua lajur paling kiri, sehingga turut menghambat laju lajur lainnya.

Titik terakhir sebagai tambahan beban kabin adalah Karawang, di agen inilah 32 kursi yg di usung kabin model HD bervarian bando ini dinyatakan tidak berstatus full.
Akupun menutup kemubadziran kursi 4AB, daripada harus berjubel dengan penunggu kursi 4D, namun Aku akan tetap bertahan andaikan yg dipangku seat 4D adalah Sweet 20 berjenis Hawa.

Jam di siang hari yg tidak sedikitpun memberiku kesempatan untuk memejamkan mata, berimbas rasa ngantuk pada malam harinya. Hingga Jalur Pantura menjelang RM Kedung Roso membangunkan mimpiku.

Di HP ku terlihat waktu menunjukkan jam 03.30. Hmmm, sesungguhnya menyantap menu khas Brebes di kala buka adalah surga yg ku inginkan kemarin, sayangnya rumah makan bis ini malah menyuguhkan menu ala wartegnya saat waktu sahur tiba.

Dua kolega pariwisata yg bertugas sebagai angkutan pemadu mudik 'Tsalju' dan 'New Comando' menempati round paling muka, di seberangnya berbaris Rosin eks karavan,
Setia Negara SR2, Sumba Putra, Blue Star, dan Putra Remaja Evolander.
Sedang area paling ujung diisi bala bantuan macam Grand Panorama, Max 77 Trans, dan Shelota Wisata.


 Meskipun dalam suasana mudik, antrian swa-makan tidaklah mengular parah. Ya, lantaran sudah bukan jamnya, terlebih ini bukanlah saat yg paling dinanti mayoritas muslim, andaisaja ini terjadi 10 jam sebelumnya, tentu pemandangannya akan lain.

Tiga pemuda dengan pakaian berlumuran sisa-sisa pelumas mesin nampak stand by di sini, satu di antaranya memakai wearpack bertuliskan Agam Tungga Jaya di bagian punggungnya. Ternyata di samping molornya jam keberangkatan yg sesungguhnya membuat kecewa, rupanya ada usaha demi lancarnya penumpang bertemu keluarga.
Mereka patut dipahlawankan beserta kru dan jajaran lainnya yg rela memrioritaskan apa yg menjadi tanggung jawabnya, padahal di balik itu tentu saja keluarga sangat menginginkan kehadirannya berbaur dalam kehangatan suasana hari nan fitri esok.

Selimut model bed cover bermotif bunga-bunga ku indahkan bersama pangkuan seat Alldila. Hembusan suhu lewat louver serta rencana bisa saur dengan orang tua dan sholat subuh berjamaah dengan wong ndeso yg akhirnya tak kesampaian menambah angler tidurku sepanjang jalan Pantura ruas Brebes-Kendal.

The Special One, baik di PO itu sendiri, di jajaran bis dua lantai, bahkan di dunia bis tanah air, Conqueror, menjadi display paling gagah di pelataran rumah makan yg berhimpitan dengan SPBU milik pembawa ikon Menara Kudus.
Berbaur dengan body rancangan karoseri  kondang, Jetbus 2 SHD yg diusung ATJ Tsalju dan New Comando.
Tak ingin mengulur waktu ataukah tak ingin membuat batal para penumpangnya, Magista hanya menyejajarkan body pada dua seniornya itu tak lebih dari kepentingan kontrlol. Sesudahnya langsung kembali capcus meninggalkan dua Kramat Djati dan dua Rosalia Indah yg turut menjadi selir-selir Double Deck milik Nusantara.

Ritual wajib, 'nyolar', hampir saja gagal gegara sopir tak kunjung menurunkan jarum speedometernya saat hendak mencapai SPBU langgananya. Meski sedikit memaksa, untungnya jarak masih memungkinkan untuk sopir segera menginjak rem dalam-dalam.
Selimut yg masih rapi membalut sandaran kursi sampai jatuh berhamburan, beberapa alas kaki penumpang ada yg berlarian maju ke depan akibat mendadaknya pengereman. Ndilalah, tidak ada kendaraan yg menempel di belakang buritannya, sehingga kedrastisan turunnya kecepatan hanya dirasakan orang yg berada di bis itu sendiri.

Bis malam dadakan 'Arimbi' terlihat mulai mengurangi beban kabinnya beberapa kilo setelah SPBU daerah Kendal ini. Dari papan trayeknya tertulis tujuan akhirnya adalah markas besar PO dengan livery abadi, Harapan Jaya.
Ini sekaligus menjadi pandangan terakhirku sebelum Aku menyudahi kesadaranku hingga kembali melihat dunia di daerah Salatiga.

Kemacetan di daerah Ampel membuat Royal Safari dan Eka melihat aksi ngeblong yg justru diiming-imingi oleh bis malam ini. Makin ke depan arus makin sedikit pegeserannya, dari informasi sopir bis yg mengarah ke Barat, laka lah yg membidani kemacetan panjang ini.
Memang sebuah SR-1 dengan kondisi muka remuk sempat crash dengan bis ku, mungkin Dia lah bagian dari korbannya.

Usai kembali melewatkan mimpi, Ka'bai dan Evolution menyambut di RM Pak Eko Ngadirojo. Dua spesies dari Adiputro itu terlihat tengah melakukan operan penumpang, hmmm dibalik riuhnya agenda mudik, nampaknya masih ada pundi-pundi untuk sekadar mengisi kehampaan kabin bis yg hendak ngosong ke Barat.




Dan akhirnya 14.00 kakiku berhasil move on dari deck yg ku diami selama 16 jam. Selamat siang menjelang sore Purwantoro...

Ekspetasi menunggu sahur pun berubah menjadi menunggu buka, bukankah justru saat-saat menunggu buka itu adalah saat yg paling indah bagi Kita umat muslim yg menunaikan puasa wajib. So, justru inikah saat yg sesungguhnya ku rindukan?
Memang, saat inilah saat yg tak luput Aku menantikan, namun meskipun Aku tiba 10 jam lebih awal, tetap saja Aku akan menemui saat menjelang berbuka ini. Jadi maaf, bukan ini surga yg ku rindukan...

10 January 2017

Yes, It's 1st Experience Travel with Intercity Double Decker Bus in Java


Nampaknya grup usaha 'triple t' tak main main dalam menggarap proyek barunya itu. Jejeran 7 bokong merah dengan nama-nama kota di Jerman setiap harinya bercengkerama dengan keramaian terminal Giri Adipura. Bukankah tambahan 5 line dalam kurun setahun itu cukup membuktikan keseriusan sebuah manajemen transportasi dalam menghadapi pasar penumpang? Kalau tidak, mungkin 6 buah Maxibus itu tidak akan beranak pinak unit-unit dari Rahayu Santosa seperti saat ini.
Belum lagi, desas desus soal kelahiran armada 'super premium' ternyata bukan sebuah gosip, isu, ataupun sekadar wacana.
Tepat pada tanggal 22 Desember 2016 Orkes Melayu yg dibintangi Via Valen menggoyang fans nya di Kota Gaplek memenuhi undangan pihak Puma's dalam rangka launching dua unit armada terbarunya, dan bertepatan dengan hari raya Natal, Double Decker yg bertumpu pada 6 sumbu roda chasis Scania K410iB itu mulai menjalankan tugas perdananya melayani penumpang di kelas Executive dan Super Executive. Sungguh spekualasi yg tidak tanggung tanggung, lanjutan dari konsep awal dimana PO milik Terang Timur Transindo Group itu mempersenjatai bibit-bibit armadanya dengan chasis premium 'O 500 R' meski sebatas kasta VIP.
Ckckck... Tidaklah berlebih jika decak kagum ini ku hadiahkan atas persembahannya.

'Yes, it's 1st intercity double decker bus in Java by Scania K410 iB', begitulah jargon yg menghiasi kaca samping armada cokelat muda berkelir batik itu. Menanggapinya, naluri ke-bis-an ku rasanya enggan berdiam.
'Bis tingkat, roda tronton, fasilitas mewah, pelayanan wah, kru ramah' bisik iming-iming yg menyeru. Lebih-lebih jika mengingat tentang berapa kali aku gagal untuk sekadar merasakan sebuah mesin made in Swedia itu.
Semasih chasis berlogo singa melet mengandalkan seri K380 nya, kerelaanku berangkat dari Solo belumlah dijodohkan dengan Scorpion King Harapan Jaya, pun ketika seri penggantinya 'K360' mulai bertebaran di jalanan Pulau Jawa, tetap saja aku tak berhasil menjajal Super Top milik Rosalia Indah. Dari kesemuannya hanyalah OH 1626 sebagai pengganti kecewa atas problema 'untung untungan' itu.
Dan kali ini, aku bukanlah berperan sebagai 'wong bejo bejan' lagi, namun asalkan tiket kelas Executive atau Elegan Class berhasil ku amankan niscaya Scania ku dapatkan, eits tapi perihal 'siapa cepat dia dapat' tetap berlaku, pasalnya antusias pasar terhadap kehadiran 'alien' ini terbilang positif, disertai libur sekolah dan hari raya yg berpotensi menguras lembar tiket, bisa-bisa menahtakan semua ini menjadi 'sewates angen'.

Ibu Ayu, nama yg tercatat sebagai official agency Bekasi Timur dalam informasi ticketing yg tercantum di file grup facebook Putera Mulya Mania. Sehari sebelum bis dua lantai itu menjalani kiprahnya, sebuah kata 'bisa' menjawab SMS yg ku kirim perihal apakah tiket untuk kelas yg diusungnya itu sudah bisa dipesan.
Tepat di hari pertama si DD ngeline, aku telusuri deretan lapak agen yg berjejer di tepi jalan HM.Joyomartono. Sayang, jika sesuai rencana awalku, tiket untuk tanggal 26 tinggal menyisakan kursi di deck atas yg dibanderol 225 K, sedang ambisiku untuk menjadi satu dari enam penumpang di deck bawah sulit ditoler lagi. Lebih baik aku mundur sehari untuk bisa terdaftar sebagai penumpang Elegan Class, dan akhirnya aku resmi tercatat sebagai pemegang kursi ber-id FF di armada berkode DD02 tanggal 27 lusa dengan barter nominal 325 K.

Jam kumpul penumpang adalah 16.00, sekitar 2 jam lebih mundur dari keberangkatan kelas VIP. Its ok, ini justru bisa ku jadikan altetnatif di saat aku pulang bersama istri yg tidak memungkinkan untuk mengejar jam berangkat bis Wonogirian pada umumnya, setelah sebelumnya kami hanya kebagian kursi Patas Harapan Jaya atau Gunung Mulia VIP yg tidak berbeda formasi seatnya dengan PO asal Tulungagung berkode perjalanan G1(Gemolong) itu, mulai saat ini kami bisa lebih lega dalam bersinggasana semalam suntuk dengan level kelas di atasnya. Nunggu'o oleh cuti yo Nduk yen pengen numpak bis tingkat...

Aku selulu mempercayakan Blue Bird sebagai partner traveling di sini. Keamanan, kenyamanan, dan keramahan belum pernah diingkari oleh perusahaan taksi raksasa itu. Apalagi, kini kemudahan pun ditawarkan olehnya, calon customer tidak perlu lagi berdiri di pinggir jalan untuk mendapatkan layananya, namun cukup dihandle dari gadget berbasis smartphone.
Tapi ada yg berbeda di sore itu, entah apakah memang sistemnya bermasalah atau malah HP ini yg eror sehingga menjadi kausanya. Lebih dari 20 menit aku menunggu proses order, namun belum ada juga sebuah taksi yg bisa ditracking, berkali ku ulang pun hasilnya nihil, hanya pesan untuk menunggu karena order sedang diproses adanya.
Imbas kekhawatiran tidak on-time chek-in di agen, aplikasi mesengger milik BlackBerry Limited ku korbankan supaya ruang penyimpanan mampu mengunduh satu aplikasi ojek online.

"Mas, gimana kalau ditambah angin saja dulu, kan deket lagi nyampe. Nanti baru ditambal"

Permintaanku pada driver grab bike yg ingin berbagi rejeki kepada tukang tambal ban, untungnya Mas Mas dengan motor Honda Vario Merah itu mengiyai saranku sehingga aku tidak meleset dari waktu yg telah ditentukan.

Suasana agen sesak oleh penumpang beserta barang bawaannya, tapi setidaknya masih ada dua kursi kosong yg bakal memangku-ku sebelum bis varian Jetbus 2+ itu datang menjemput.

Ludesnya tiket bis regular menjadi celah untuk agen menjual kursi bis pariwisata yg mendadak disewanya, tercatat ada Subur Jaya, WY Trans, Restu Wijaya, Putra Bangsa, dan satu bis pariwisata lagi yg tak ku kenali namanya menjadi alternatif untuk mereka yg kurang cekatan. Melihat nama dan fisik bis bis itu, tentu saja menjajikan, artinya meskipun bukanlah bis dengan trayek resmi, namun niscaya tidak akan mengecewakan penumpangnya.

Satu jam menunggu, belum juga armada penantian itu muncul. Malah salah satu penumpang dari agen Cilandak harus terbirit-birit ke sini karena ketinggalan. Itu artinya, bis sudah take off dari Cilandak dan dalam perjalanan ke sini setelah terlebih dulu menyinggahi terminal terbesar se-Asia Tenggara 'Pulogebang'.
Masalahnya, konon lalu lintas di jalan tol simpang susun Cikunir macet parah, baik yg dari JORR menuju Cikampek ataupun dari Cawang mengarah Cikampek. Sehingga tidak ada estimasi waktu kapan bis sampai di Bekasi Timur.

Penumpang tujuan Jogja'an lebih dulu berangkat dengan sang senior namun lebih junior di kelasnya 'P09'. Disusul para perantau dari bumi Gunung Kemukus yg memegang tiket perjalanan kode 'G1' armada Scorpion X bergambar 8 kuda. Kemudian 3 unit Mulyo Indah yg sepertinya kesemuanya berkelas Executive.
Sebuah Legacy SR1 bercorak ala 'nano nano' ditugaskan menjemput penumpang line Jakarta-Denpasar. Serta koleganya yg berbusana Jetbus 2 mengekor dengan tujuan akhir Wonosobo, sedang para pembeli tiket Dieng Indah dengan jurusan yg sama harus mengakui keberuntungan penumpang bis yg menjadi kompetitor line nya itu, lantaran PO yg menamai dirinya dengan keindahan tanah homebasenya itu urung juga datang.

19.32 adalah jawaban atas mundurnya jam berangkatku yg seharusnya 3 jam lebih awal.
Ibu Ayu dan beberapa rekannya turut berperan menjadi komando ketika bis memutarkan badan bongsornya di area SPBU samping agen, setelahnya mereka tidak luput mengabadikan DD02 menjadi sebuah file gambar di HP nya, rupanya selama 3 hari bis ini berjalan, masih saja antusiasme dan rasa penasaran khalayak terhadapnya belum merosot.

Pintu penumpang serta bagasi bawah semuanya dikontrol secara elektrik berteknologi hidrolik.
Setelah melewatinya, hadapan akan langsung tertuju pada toilet yg berdempetan dengan dispenser air panas sebagai persediaan kepada penumpang yg ingin menggunakannya untuk menyeduh minuman ataupun mie instan.
Penumpang kelas Executive di arahkan ke kanan menyusuri anak tangga untuk meuju lantai atas, sedangkan penghamba Elegan Class mengarah kiri melewati selembar tirai untuk bersinggasana di seat Alldila tipe 'Premium'.

Seat yg lengkap dengan fasilitas personal entertainment ini berkedudukan lebih rendah daripada kursi driver dan dua kursi co-driver yg dipisahkan sekat pembatas. Sehingga, chasis yg cocok untuk bis double decker ini adalah tipe modular untuk selanjutnya dibangun menjadi space frame, serta sebagai keseimbangan ketinggianya maka diperlukan chasis yg lebih panjang, dalam hal ini adalah triple axel.
Yg pantas membuat acungan jempol, kursi yg biasa disebut CB-CD ini melompong alias tak berpenghuni penumpang yg tidak kebagian tiket reguler, semoga saja hal ini turut direalisasikan pada armada kelas VIP nya yg masih menempatkan kelebihan penumpang di kursi Smoking Area.

Di belakang kokpit driver, tepatnya di lantai yg berada di atas roda depan, hanya digunakan sebagai tempat menaruh barang bawaan dan sebidang gangway di tengahnya. Sehingga 6 penghuni kabin bawah ini tidak perlu menempatkan barang bawaanya di bagasi bawah, yg memang hanya memiliki ruang yg pas-pas'an.

Plafond di deck bawah ini dibuat minimalis, tidak dilengkapi dengan bagasi kabin pada umumnya dengan tujuan supaya tidak bersinggungan dengan kepala penumpangnya, karena memang kabin di bis ini harus dibuat serendah mungkin untuk meminimalisir overall ketinggian body bis. Termasuk dengan penempatan AC yg bukan di atas body, serta dengan modifikasi lubang darurat atap yg tidak nongol ke atas.

Dengan kursi yg hanya berjumlah 6, dan kedudukannya yg sejajar dengan mobil kecil, serta gorden yg menghalangi pandangan ke belakang, membuat bis ini serasa rendah dan pendek, serta teknologi air suspension built up dari Scania yg mampu meredam getaran dan mencegah limbungnya body saat moment belok, membuat berada di deck bawah ini seperti halnya naik sebuah mobil MPV Premium, tidak serasa naik bis. MPV Premium? Opo? Toyota Vellfire, Nissan Elgrand? Emang pernah numpak? Sotoy !!!

Masih mengupas soal interior, seat Alldila khusus penumpang Elegan Class ini dikontrol secara elektrik, baik reclening dan leg-rest nya tergabung menjadi satu tombol saja. Jadi, ketika kita hendak menegakkan sandarannya, secara otomatis pula dudukannya akan bergeser mundur dan leg-rest nya pun akan turun, demikian pula sebaliknya.

Soal entertein, kita akan disuguhi option audio ataupun video, jika kita membawa USB sendiri maka kita bisa memutarnya di sini. Pun tidak membawa, sudah disediakan beberapa file yg bisa kita putar. Namun untuk mendapat suaranya, kita harus membawa headset sendiri.
Takut mengganggu penumpang di sebelahnya? Tenang, kita bisa menyetel kecerahan LCD ini supaya tidak menghasilkan warna yg menyilaukan, dan di kabin ini lampu tidur yg menyatu dengan lourve AC memang tidak dimatikan, sehingga keadaan kabin tidaklah begitu gelap, membuat penumpang di sebelah kita tetap bisa merem menggapai mimpi meskipun kita tengah goyang dumang bersama OM Monata.

Buritan Hitam-Putih dengan sedikit aksen merah berlabel 'Muji Jaya' terlihat di sisi kiri, rasanya tidak perlu penjelasan, siapa yg menyalip dan yg disalip, asalkan yg tersebut adalah serdadu Muria-an, siapapun pasti pintar menginterpretasikan.
Bukanlah hal yg kudu ku eluh-kan, kesadaranku akan fisik serta konsep pelayanan dari bis ini membuatku berbatin ‘yen banter sing tak golek'i, aku ora numpak iki'.
Jelas saja, bukan maklumat itu yg akhirnya membiusku hingga disadarkan gebyar lampu utama di Rest Area KM 102.

Terlihat unit 'hitam' diapit barisan OBL dan Gunung Mulia di depan RM Taman Lestari. Mungkinkah itu kepunyaan 'Linsaka' ?
Lantaran setelah rumah makan Barokah Indah Indramayu ditinggalkannya, bis pelopor 'online ticket' itu dikomandokan untuk bermitra pada RM Kedung Roso, entah gerangan apakah yg mengausai hingga satu di antaranya kesasar di Rest Area favorit bis malam ini.

Kolega jalur selatannya belum juga beranjak ketika juniornya tiba di RM Taman Sari, adalah M2, E1, serta E8 yg juga sedang memberikan layanan 'ishoma' kepada para penumpangnya.
Harapan Jaya bis 60, Nusatara NS 17 dan Black Pearl, Prayogo, serta bis malam dadakan 'Putra Bangsa' turut meramaikan acara 'dinner on the toll' malam ini.
Maxibus dengan kode P9 dan New Setra milik Subur Jaya pun enggan ketinggalan.

Bagai seorang artis, bis dengan livery Scania-Vabis ini tak pernah berhenti dari sorotan kamera, mulai dari para penumpang biasa, pegawai rumah makan, bahkan dua pemuda dengan kemeja hitam bertulisakan 'nusantara' pun seperti tak ingin menyiakan kesempatan memiliki gambar bis tingkat hasil bidikannya sendiri.

21.42 beranjak dari Rest Area 102. Laskar Muria-an yg berhombase di Pati 'Selamet' menjadi awal kebingunganku 'bis ku yg banter, atau Selamet nya yg pelan' di KM 122.

Dan pertanyaan itu terjawab di KM 137 sampai KM 141, dimana barisan bis bis pengusung slogan 'alon waton kelakon, nggremet waton selamet' macam Dedy Jaya Nucleus 3, Damri Legacy SR-1 beseri 4915, Sinar Jaya 72 ZX, dan sebuah Sumber Alam dipameri kedigdayaan mesin bertenaga 410 kuda ini.

Konvoi dua penjaja jalur selatan, Sinar Jaya dan Sumber Alam, menjadi korban selanjutnya di KM 142.

Sebagai imbas dari molornya waktu keberangkatan yg mencapai 3 jam tadi, laju Diana Jaya, AQ Trans, dan Damri 3206 di KM 147 harus dipatahkan.

Begitupun dengan Garuda Mas Skyliner di KM 152 dan Gunung Mulia Panorama 3 di KM 155, kecepatannya tidaklah menjadi panutan untuk mengejar waktu landing di Baturetno besuk.

Discovery milik Sinar Jaya, serta Angkutan Pemadu Moda Hiba Utama yg tengah diperbantukan untuk Murni Jaya, lagi lagi harus mengakui stigma bis tingkat identik dengan jalannya yg lelet.

Di KM 160, giliran Scorking milik Dieng Indah dan New Setra bercorak Restu Wijaya yg menjadi bulanannya.

Sumber Alam Panorama 3 ber-tag 'nona manis' dan Dieng Indah Jetbus adalah daftar korban kecepatan selanjutnya di KM 163.

D'Orange seperjuangannya 'E1' pun turut dinodai soal speed-nya di KM 169.

Lagi lagi, loyalis Karoseri Laksana 'Sumber Alam' body Sprinter harus mengakui jati dirinya sebagai bis lambat di KM 172.

Pintu keluar Sumberjaya menjadi saksi kemenagan atas dua unit Sinar Jaya Discovery dan Lorena Evonext.

Pembayaran di GT Palimanan membuat tiga unit bis bermoto 'kami memang beda', masing-masing berbody SR1, Titan, dan Proteus bernomor body 308283, Bandung Express SR1 dengan stiker premier class ala identitas Haryanto, Raya Nucleus, Handoyo Celcius, serta Sinar Jaya Jetbus-2 57VX menjadi teman antrian.
Lolosnya mereka dalam menapakkan rodanya di tol Palikanci, tidak serta merta mencoreng citra yg telah dibangun di Cipali tadi. Ibarat tanpa harus memeras keringat, satu per satu dari tujuh bis itu menjadikan DD02 ini semakin di depan.

Bukan tidak mungkin, jarak yg tersisa di depan akan menyuguhkan tontonan yg lebih seru lagi. Apalagi setelah kedelapan rodanya berputar di aspal non tol, dimana akan dihadapkan dengan lalu lintas yg semrawut, sepeda motor, dan jalan yg tak selalu mulus. Membuat kenek jarang mengisyaratkan kalimat 'kiri prei' walaupun sekadar hendak menyalip truk gandeng sekalipun. Di sini bukan lagi kecepatan yg menjadi ujung tombaknya, celah serta kesempatan pun turut membangun keberhasilan sebuah over take.
Yg paling jengkel, ketika dibutuhkan waktu yg lama untuk menyalip, yg ingin disalip pun enggan memberi jalan, saat berhasil menyalip tak lama dihadang lampu merah. Rasanya, sakitnya tuh di sini...

Namun penyakit yg disebabkan kurang tidur, 'ngantuk', membuatku memilih move on dari fitur entertain realita dibalik kaca ke fitur kenyamanan. Dengan setelan reclening rebah maksimal, seat ini sangat nyaman menompang tubuh dalam kadar tempat duduk dalam bis. Bosan berbaring? Ingin pindah posisi? Miring juga bisa kok...
Tapi di sini saya berpesan untuk kalian yg masih berstatus pacaran dan hendak naik bis berdua, saya sangat tidak merekomendasikan kalian naik bis ini. Kenapa? Karena seat nya yg longgar akan menutup kesempatan 'nempel kaya perangko'. Ingat, bahwa mencari kesempatan itu di kesempitan, bukan di kelonggaran. So, naiklah Patas AC saja, lebih ekonomis, lebih romantis...

Dara berdarah Jogja-Priangan itu menatapku tajam, seperti ada perasaan yg ingin terungkap namun terpendam. Lambat laun, mata itu merayuku, aku larut dalam perasaan senang bercampur deg-deg-an. Makin ke sini, makin besar tanda tanya di hati, apakah yg sebenarnya terjadi ?

'Mas, aku lah Dewi yg ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupmu...'

'Maaf, kamu bukan Dewi itu. Dewi yg kamu maksud telah ada padaku...'

'Akulah Dewi ke-dua untukmu Mas...'

'Benarkah ?'

'Percayalah ini sudah menjadi takdir Tuhan...'

Perlahan, langkah ini hendak menggapainya. Pun Dia juga semakin mendekat bak menjemputku, seperti tak ingin kehilangan sedetik pun waktu untuk segera bercengkerama...

Ketika tinggal menyisakan selangkah lagi untukku meraihnya, tiba tiba saja bumi berguncang...

Dan...

Kemudian...

Akupun tersadar, ini bukanlah gempa, hanya sebuah limbung kecil akibat bis tengah sedikit menikung.

Andai saja, Pak Sopir sedikit memelankan bis nya, mungkin saja tikungan ini akan menyadarkanku dari mimpi seusai aku menggenggam tangannya, lalu merangkul, lalu membelainya, lalu... terusno dewe !

Penyesalan itu memang datang terlambat, inilah resiko menjadi penumpang bis banter, hehe...

Perhatian terpaku pada tepian jalan, berharap ada papan nama sebagai informasi sampai dimanakah saat ini. Mata yg masih bermalas-malasan tidak mampu menangkap satu pun tulisan nama daerah, padahal sudah ku lihat sebuah kantor Bank dan Minimarket yg biasanya di sertai nama cabangnya.

Dari kontur jalannya, sepertinya ini di daerah Subah. Tapi hatiku yg berbatin 'moso yo cepetmen' menjadi ingkarku atas 'kira-kira' itu.
Tak meleset, setelah ku pastikan dengan Google Maps, memang ini adalah jalanan Subah, bahkan sudah mendekati Alas Roban.

Lalu lintas yg lumayan lenggang, menghadiahkan kemenangan atas posisi Handoyo SR1 Orange, satu Maju Lancar Utama Evonext serta dua komplotannya yg berkostum Jetbus Morodadi.

Pikiran awal akan bis ini yg membelah Alas Roban via jalur lingkar atau jalan baru ternyata salah.
Dibuktikan dengan konvoinya bareng Harapan Jaya Scorpion X melewatkan pertigaan jalur lingkar dan bersama mengarah jalur Poncowati. Perasaan deg-deg-an naik ke permukaan, sanggup dan amankah bis dengan ketinggian yg tidak lazim ini menaklukkan tikungan ekstrim tengah hutan ini ?

Sopir pun enggan mengulur kekhawatiranku, moncong kendalinya makin dipepetkan dengan buritan body buatan Tentrem itu. Sepertinya roda kanan pun sudah tidak lagi berjalan di atas kebenaran, alias sudah melewati batas marka jalan, bersiap dini supaya tidak sampai kehilangan moment.
Benar saja, begitu keyakinan dalam menyatakan jalur lawan sedang 'free' kuat, tikungan bukan alasan untuk melakukan over-take pada bis bernyawa New Generation of 1626 itu.
Sesudahnya, tikungan yg tersisa terlewati tanpa adanya gejolak, kinerja sistem suspensi udara chasis premium milik K410 atau 1836 memang bisa diandalkan dalam melibas tikungan.

Menyalip satu bis di jalur ini sama halnya menyalip 10 bis di jalan 2x2, atau seimbang dengan 20 bis di jalan tol, itu selera kepuasan saya pribadi.
Entah, bagaimanakah nasib jalan yg dikenal dengan sebutan 'jalan lama' ini esok, apakah jalur legendaris ini masih berperan dalam menjembatani bus malam Jakarta-Semarang, ataukah akan dipensiunkan tatkala jalan tol Trans Jawa rampung.

Pengusik Garuda Mas sebagai penguasa jalur 'Geyer', besanding akrab dengan PO yg hingga kini masih 'ogah-ogah-an' mengikuti para rival se-trayeknya dalam mereformasi seat menjadi 8 baris.
Adalah TZ 71, TZ 29, dan TZ 08, yg berjajar dengan LP 43, LP 102, serta LP 31, tengah melaksanakan kewajiban kepada penumpangnya dari virus 'uripmu kurang ngopi' di rumah makan Raos Eco.

"Mas ikut Bis tingkat itu ya ?"

"Iya Pak..."

"Berapa itu Mas ?"

"Yg atas 225, yg bawah 325..."

"Berangkat dari mana itu ?"

"Pondok Pinang, Pulogebang, sama Bekasi..."

"Itu jalannya bisa cepet juga ?"

"Tadi sih karena telat 3 jam, jadi cepet sih Pak..."

"Emang udah jalan berapa bulan iti ?"

"Baru 3 hari ini Pak..."

Sedikit obrolanku yg di mulai sebuah tanya dari seorang Bapak yg mungkin penumpang Zentrum, kembali membuktikan bahwa memang makhluk yg bernama 'double decker' ini bagaikan alien yg jatuh ke dunia perbisan Indonesia.

Trans Zentrum Bus dengan nomor 36, duo eshade berkode LP 194 dan LP 176, serta bis binaan Hiba Group yg tengah diterjunkan sebagai pembantu arus mudik, Bela Utama BU14, menyusul para koleganya yg lebih dulu 'nyruput' kopi hitam seduan tangan orang Gringsing dengan banderol 5K itu.

Bersiap take-off dari rumah makan yg kini tengah menuju MURI untuk catatan rekor meja ter-pliket (lengket) itu, tiba tiba kabin bawah digegerkan dengan kebingungan seorang Ibu dan anak gadisnya yg duduk di seat BB dan CC.
Adanya air yg membajiri lantai di bawah dua kursi itu membuat Ibu yg dinilai dari perhiasannya adalah 'wong nduwe' itu mengadukannya kepada kru.
Konon, air itu berbau 'pesing', akan tetapi kru masih berdalih itu bukan air dari toilet. Logis memang, mengingat air yg sampai ke kursi paling depan itu seharusnya mengalir melewati kursi tempat saya duduk yg notabene terletak tepat di depan toilet, tetapi lantai di kursi FF saya justru kering tanpa sedikitpun berembun.
Setelah dipel oleh kenek, ternyata air kembali lagi. Ketiga kru dibantu satu petugas kontrol lalu mencari sumber air itu ke toilet, namun karena kesemuanya bukanlah orang yg ikut serta membangun body bis ini, lumrah saja jika pada akhirnya kausa dari musibah banjir ini masih misteri.
Selimut disetujuai bersama sebagai alternatif untuk menghambat air menggenang ke lantai.

RM Mekar Sari menjadi titik awal kemacetan, keberuntungan sebuah Pahala Kencana Jetbus dalam mencari celah bukan sesuatu yg mencoret prestasi 'banter' DD02 yg telah ditorehkan dari awal lantaran dilatari oleh sikon lalin yg semrawut.
Bis paramitra Sari Rasa yg patut dijadikan biang keladi atas ketersendatan ini, rumah makan dengan PO penggandrung terbanyak ini pintunya tak henti dilewati bis, alhasil untuk menujunya diperlukan peran u-turn di depannya sebagai celah akses, baik bis yg hendak masuk maupun yg keluar kembali ke jalan raya.
Benar saja, setelah melewati rumah makan yg dipangku daerah Kendal itu, kemacetan berganti dari arah berlawanan.

Legacy SR1, Nucleus, dan Jetbus BR (Bulakrejo), ketiganya melenggang membawa nama 'Raya' saat DD02 menurunkan penumpang pertama kalinya di Mangkang Kulon.

Masih terbayang akan sosok Dewi ke-dua ku, kembali ku rebahkan seat ini, ku posisikan tubuh ini miring ke kanan. Berharap syair reff lagu 'Elang by Dewa 19' ku nikmati di sisa jarak Semarang-Wonogiri ini.

Sinar 'padang' saat aku membuka mata, bukan lagi disumberi oleh lampu kabin, melainkan sambutan selamat pagi daerah Kartasura.

Dua bis yg dijuliki oleh manianya dengan sebutan 'Arow' dan 'Shadow', beriringan mengarah barat, mungkin mengondisikan lonjakan pemudik dari Jabodetabek sehingga sebagian kekuatan dari GMS itu diberangkatkan dini tanpa penumpang.
Kedua sopirnya terlihat tersenyum kagum ketika melihat bis tingkat yg sedang menjadi papasannya ini.

Tak luput ketika bis mengarah ke Terminal Tirnonadi, kenek dan sopir Tunggal Dara Putera bumel Solo-Purawantoro terlihat begitu memerhatikan bis ini saat keduanya berjejer menunggu lampu hijau di Perempatan Manahan.

Berhubung ketinggian bis yg mungkin tidak lolos untuk menerobos gerbang masuk, maka bis hanya berhenti di depan terminal untuk memberikan pungutan retribusi saja.

Ketika ku rasa sebagian penumpang sudah tercecer di tujuannya, sehingga keadaan kabin sudah longgar, ku susuri anak tangga menuju deck atas, semoga saja aku tidak dianggap penumpang ilegal di kabin milik penumpang Executive ini dan untuk melegalkannya aku harus membayar 225 ribu lagi.

Dua kursi di area yg biasanya jadi rebutan para pecandu rokok terlihat kosong, lumayan lah untukku menuruti hasrat yg telah terbendung sedari Gringsing tadi.
Di sini tak hanya mengandalkan kerja sebuah Exhaust Fan seperti pada Smoking Area umumnya, namun kaca samping yg bisa dibuka pun turut diadakan sebagai jalan keluar asap.
Haha, rasane koyo numpak bis bumelan...

Tak ada yg berbeda di deck atas ini dengan kabin bis biasa pada umumnya, perbedaannya hanya terletak di kursi paling depan yg biasanya untuk sopir, maka ini untuk penumpang.
Saran saja untuk Puma's, supaya kursi paling depan ini tidak perlu difasilitasi dengan Personal Audio Video, namun diganti dengan lingkar setir saja, sehingga penumpang yg duduk paling depan bisa menikmati real entertain seolah-olah dialah yg sedang mengemudikan bis ini, hahaha...

6 Penumpang Elegant Class masing masing turun di Salatiga, Solo, Sukoharjo, dan dua orang di Wonogiri, sehingga sayalah penumpang terakhir yg turun di Ngadirojo.

"Suwun nggih Mas..."

Itu bukan kalimat dari saya lho, tapi kalimat untuk saya !
What ?


Selama delapan tahun menjadi perantau, ngetan ngulon naik bis, dengan PO ini itu iki iku kae kuwi, ini yg pertama kalinya saya menemui kru yg memberikan ucapan terima kasih untuk penumpangnya.
Lha wong kadang saya yg mengucapkan terima kasih saja dia hanya mendengarkan kok, entah males, hemat bicara, atau malah takut ingin menjawab sekadar kata 'yo' thok.

Banyak PO yg berlomba dalam melayani, baik dari sisi armada maupun service lain yg dianggapnya mampu memenuhi kepuasan konsumen. Sayangnya dalam hal ini manajemen luput memerhatikan sikap kru kepada pelanggannya, tidak adanya tuntutan yg dijadikan SOP kepada krunya untuk bersikap sopan santun dan ramah tamah. Sehingga apa yg telah diusahakan demi loyalitas konsumen itu seperti tanggung-tanggung atau tidak maksimal ketika suatu saat ada omongan "kru ne galak", "sopire pas jagongan karo kernete gur misuh misuh ae".

Semoga saja, apa yg kini dilakukan Puma's kepada kru nya dalam menyikapi pelanggannya, bisa menjadi panutan yg lain.

Dua orang lain menjadi 'batur' ku turun di sini, masing masing turun di Sidoharjo dan Jatisrono setelah kami berpindah ke Gunung Mulia bumel.

Ternyata bukan aku saja yg rela bersusah oper bis lain dan mengeluarkan ongkos lagi untuk mencapai tujuan demi merasakan sebuah bis tingkat.
Hmmm, itu berarti bis ini bisa diterima pasar.

Bukan sebuah kesombongan jika Puma's mengecap dirinya mengoperasikan bis tingkat AKAP pertama di Jawa, melihat respon masyarakat baik yg berlaku sebagai penumpang maupun sebatas penikmat, tidak salah jargon 'Yes, it's 1st intercity double decker bus in Java by Scania K410 iB' diusungnya, karena ketika ada PO lain setelah Puma's, mungkin kegirangan mereka tidaklah seperti ketika pertama kalinya.

Termasuk saya, jika mungkin suatu saat ada bis tingkat lainnya yg beroperasi AKAP di Jawa, cukup berbatin 'wis tau numpak Puma's DD02'...

'Yes, It's 1st Experience Travel  with Intercity Double Decker Bus in Java'